Ada sebuah kapal bernama AlBanna yang mempunyai satu orang nahkoda dan 3 orang asisten. Kapal AlBanna juga memiliki 8 staf yang terdiri dar...

Tak ketinggalan, ada staf Akademik dan Profesi yang bertugas memperhatikan prestasi para ABK demi lancarnya pelayaran dan kesejahteraan mereka nantinya. Lalu, ada staf Kesekretariatan yang bertugas mengurusi kebutuhan logistik kapal. Memastikan semua perlengkapan yang ada di kapal lengkap dan baik selama pelayaran.
Setelah itu ada staf BMQ yang tugasnya menyeleksi dan menempatkan orang2 yang akan menjadi para ABK sesuai dengan tingkat pemahamannya tentang lautan dakwah dan kesanggupan mereka dalam mengarunginya. Dan yang terakhir ada Staf FSLDK yang berfungsi untuk menjalin komunikasi dengan kapal2 lain yang juga berlayar mengarungi samudera kehidupan dan lautan dakwah.
Namun, masalah mulai muncul ketika para staf kapal AlBanna mulai melupakan pentingnya amal jama’i. Suatu hari staf Kaderisasi meminta staf2 lain untuk membantunya dalam acara PMDK (Pelatihan Manajemen Dasar Kapal) yang tujuannya untuk memberi pelatihan pada ABK tentang seluk-beluk kapal AlBanna dan tujuan dari pelayaran mereka. Tapi, staf yang lain dengan enggan menjawab “Lho, itu
Di lain waktu, dari staf Syiar dan Pelayanan ingin mengadakan agenda LMT yang ingin memberi pelatihan pada orang luar demi membangun jiwa kepemimpinan mereka untuk dapat bergabung dalam pelayaran ini, meski nantinya tak harus jadi ABK AlBanna. Namun, kembali staf yang lain menanggapinya dengan setengah hati. Mereka berkata “staf Syiar
Bulan selanjutnya staf Keuangan meminta nahkoda untuk singgah sebentar di pulau asing demi melihat peluang bisnis, sebab pundi2 uang mereka telah menipis sementara pelayaran masih jauh. Namun, saat staf Keuangan meminta staf2 lain untuk membantunya berniaga, mereka menyahutinya denagn antusias “Tenang aja…nanti kami bantu koq…” kenyataannya, staf Keuangan sibuk menggelar perniagaan dan melayani pembeli seorang diri. Kemana perginya staf lain?? Oh...mereka sibuk menjelajahi tempat lain dan ngerumpi. Padahal awal tadi mereka menyanggupi. Ironis.
Seminggu kemudian, giliran staf Akademik dan Profesi mengadakan rapat khusus untuk membahas PLATINUM (Pelatihan Intensif Untuk Mesin) agar nantinya para ABK terampil dalam teknologi mesin kapal AlBanna. Namun, staf yang lain hanya berkata “kami datang rapat koq, tapi Insya Allah lho….” (entah Insya Allah yang dimaksud Insya Allah datang atau Insya Allah tidak datang, waallahu alam). Akhirnya, rapat berlangsung hening karena yang datang hanya segelintir. Ironis.
Lalu, staf Kesekretariatan meminta bantuan staf lain untuk ikut membersihkan ruang penyimpanan barang2 logistik mereka dan mendatanya. Staf2 lain meminta maaf “Afwan ya, gak bisa bantu…kami masih ada kerjaan di masing2 staf…” alhasil, ruang penyimpanan mereka belum beres sepenuhnya dan pendataan barang pun kurang akurat. Sedangkan staf2 itu justru menggerutu saat barang logistik yang mereka butuhkan tidak ada. Dan staf Kestari hanya mampu mengurut dada.
Tibalah saat staf BMQ meminta bantuan para staf untuk mengawasi ujian para ABK yang ingin bergabung dalam pelayaran mereka. Staf lain hanya mengangguk, tak berkata apa-apa. Staf BMQ menganggapnya sebagai persetujuan untuk membantu. Namun, saat hari H para calon ABK membludak sementara staf BMQ tersentak. Sebab hanya beberapa orang perwakilan staf lain yang hadir. Kemana sisanya?? Mereka hanya titip salam dan doa “Salam ya…semoga sukses dan diperlancar…” bagaimana bisa lancar jika peserta ujian puluhan orang, sementara pengawasnya dapat dihitung satuan???. Ironis.
Lalu menyusul staf PSDM yang ingin mengadakan rapat tentang agenda mereka. Namun staf lain justru dengan enteng berucap “ Ini rapat PSDM
Yang terakhir staf FSLDK yang meminta staf lain untuk ikut bersilaturahim ke kapal lain. Dan para staf menjawab “Oow…yang di undang
Dan sang nahkoda pun bingung saat mendengar laporan para staf akan keengganan rekan2nya dalam membantunya. Sebenarnya masalah yang mereka alami memiliki penyebab yang sama yakni kurangnya kerjasama antar staf, hanya saja masing2 dari mereka tak mau disalahkan. Rapat istimewa pun digelar oleh sang nahkoda, 3 orang asistennya, dan seluruh staf beserta ABK.
Akhirnya karena keegoisan pribadi masing2 staf, sehingga diputuskan agar tidak terjadi perselisihan lebih lanjut maka dilakukan pembubaran staf dan kapal AlBanna dikaramkan saja… akhir yang tragis bagi kapal besar bernama AlBanna!
Ikhwah Fillah… kisah dia atas bukanlah dongeng sebelum tidur, melainkan suatu kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada UKM tercinta kita. Bila kita dengan tegas menjawab “Itu berlebihan, karena Mustahil AlBanna dibubarkan!” kami hanya mengingatkan betapa seringnya kita meninggalkan agenda atau rapat dengan alasan sibuk, malas atau bahkan karena itu bukan progja departemen kita. Betapa seringnya kita acuh saat ada rekan kita yang sibuk mengejar deadline progjanya sementara kita hanya duduk manis menontonnya. Dan betapa seringnya kita dongkol karena kurangnya respon teman2 kita dalam menjalankan suatu agenda yang padahal itu demi kemajuan AlBanna. Jika yang terjadi diantara kita -- selaku kader AlBanna-- saling melempar tanggung jawab, lebih senang bekerja infirodi dan menafikan amal jama’i, masih tetap mustahilkah AlBanna dibubarkan??? Atau justru timbul pertanyaan yang lemih mengenaskan, masih sanggupkah AlBanna bertahan???
Ikhwah fillah… sesungguhnya AlBanna adalah tempat .. Bersambung ..