ADK... hem, nama yang istimewa sebagai Aktivis Dakwah Kampus, walaupun sering sekali singkatan itu, di jadikan singkatan lain seperti : •Akt...
ADK... hem, nama yang istimewa sebagai Aktivis Dakwah Kampus, walaupun sering sekali singkatan itu, di jadikan singkatan lain seperti :
•Aktivis Dakwah Kantoran
•Aktivis Dakwah Kampung
•Aktivis Dakwah Kota
•Aktivis Dakwah Kecamatan
•Aktivis Dakwah Kabupaten
•Aktivis Dakwah Kita
•Aktivis Dakwah Kelompok
•Aktivis Dakwah Kereeeeen meeen he he he
Tidak peduli julukannya seperti apa, yang jelas aku berada dalam lingkungan kampus, silahkan ambil salah satu dari situ gratis koook.
Orang bilang aku aktivis dakwah, Hem.... betulkah???
Ah, aku rasa salah, aku memang berada dalam kumpulan mereka, tapi... aku bagai buih yang tidak beraturan, aku sama sekali tidak memberikan kontribusi pada dakwah, apalagi berjuang bersama aktivis tersebut, aku betul-betul bagai buih yang tidak beraturan, sekumpulan orang yang tidak berguna dan dakwah tidak membutuhkan itu, tegasnya dakwah tidak butuh dengan saya, kata-kata itu mengingatkannku pada sebuah lagu shoutul haroqah, bahwa dakwah hanya memerlukan sekumpulan orang yang siap dalam barisan yang teratur, lagi-lagi bukan buih yang tidak beraturan...
Aku memang sangat tidak layak menyandang gelar ADK itu, bayangkan... betapa seringnya aku terlambat shalat berjamaah di masjid, bahkan saat ngetik ini pun, suara adzan sayup-sayup terdengar manja di telingaku, bukan lagi terdengar gemuruh semangat untuk membangkitkan ku terus maju dan melangkahkan kaki ku, sungguh aku malu di sebut sebagai aktivis dakwah...
Jangan panggil aku aktivis dakwah....
Saat mutaba’ah yaumiyah pekananpun, sungguh jauh berbeda jika aku di bandingkan dengan sohib-sohibku selingkaran, saat mereka fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan), terbukti dengan semangat sohibku tilawah dengan 7, 8, 9 juz perpekan, qiyamul lail yang rutin, al ma’tsurat yang tak pernah lewat, shalat berjama’ah di masjid tak pernah ketinggalan, dhuha apalagi, tapi... aku???? Hem.... kadang aku malu saat itu, betul-betul malu, tilawahpun aku hanya beberapa lembar pekan ini, tahajud??? Hem... malu aku mengucapkannya, dhuha pun sama, bahkan shalat berjamaah pun sering lewat (sering munfarid), sungguh aku betul-betul malu sama sohib ku waktu itu....
Jangan panggil aku aktivis dakwah...
Pernah suatu saat aku memberanikan diri meminta tausiyah pada MR ku, dengan keterus terangan ku
Ass... tadz, jujur ane sering banget maksiat, tolooong kasih ane tausiyah, syukron.. by.ane
Tak lama dari itu, MR ku, jujur beliau sangat perhatiaaaan sekali padaku, pada semua mutarobnya, sehingga SMS pun langsung di balas.
Jujur merupakan modal taubat, jujurlah pada allah, bersungguh-sungguh untuk berlindung dari syaiton, sibukan diri dengan ibadah, kegiatan DK, shoum, jangan sendiri, bertemanlah dengan orang sholeh....
Hhhhhhhh.... aku hanya menarik nafas saat itu, betul-betul menyinggungku dan terasa menusuk-nusuk jantungku, karena keberadaan ku betul-betul jauh dari Allah, jarang aekali khusyu beribadah padaNya dan.... DK bukan lagi hal utama bagiku, walaupun itu merupakan suatu kewajiban bagiku tanpa harus di ekspos di sini. Tapi... lagi-lagi keberadaanku sebagai label aktivis sama sekali tidak pantas aku sandang.
Keberadaanku di tengah-tengah sohibku di kampus, hanyalah sebatas tempat canda gurau, bukan sebagai solusi permasalahan syuro, karena.... setiap syuro, aku selalu dan selalu mencari alasan untuk mundur alias jauh dengan kata-kata itu, aku justru alergi syuro’ entahlah....
Saat aku ABG (Aktifis Baru Ghiroh) dulu semester satu, rasanya nyamaaaan banget berada di tengah-tengah amanah dakwah yang menggunung itu, nikmta sekali mengemban peran aktivis itu, walaupun harus sedikit kelelahan dan ujung-ujungnya sampai demam, tapi... sama sekali itu tidak menyurutkan ku untuk terus mengemban amanah ini, ah... itukhan dulu... tapi sekarang???? Lagi-lagi aku tidak layak mengemban amanah ini
Jangan panggil aku aktivis dakwah...
Kini aku mau menyandang gelar kehormatan itu, menyandang gelar aktivis dakwh.. ah, jangan panggil aku itu, akhir-akhir ini, kerjaku di dakwah kampus tampak memudar, kini aku jarang sekali ikut syuro, yang biasanya dulu aku paling semangat dengan syuro’ atau bertukar pendapat, tapi sekarang…. Ah, semoga tidak berkelanjutan rasa malas yang memebenggu diri ini.
Pernah waktu itu aku di ajak syuro waktu acara seminar, ah… rasanya rasa malas itu membuntuti ku, aku betul-betul berat melangkahkan kaki ku, duh… allah yang kuasa, tolonglah hambamu…
Bahkan lebih parah lagi, binaank ku sekarang di SMA, sedikit terhambat, mereka memang malas rajin, tapi…. Aku yakin karena aku sendirilah, yang membuat mereka tidak tertarik denganku, dengan dakwah ini, walaupun do’a-do’aku selalu menyertai mereka, untuk tetap istiqomah di dalam jalan dakwah ini, ah… lagi-lagi, bukankah aku sendiri yang mulai melenakan dakwah ini, menelantarkan job-job yang haruskan aku kerjakan...
•Aktivis Dakwah Kantoran
•Aktivis Dakwah Kampung
•Aktivis Dakwah Kota
•Aktivis Dakwah Kecamatan
•Aktivis Dakwah Kabupaten
•Aktivis Dakwah Kita
•Aktivis Dakwah Kelompok
•Aktivis Dakwah Kereeeeen meeen he he he
Tidak peduli julukannya seperti apa, yang jelas aku berada dalam lingkungan kampus, silahkan ambil salah satu dari situ gratis koook.
Orang bilang aku aktivis dakwah, Hem.... betulkah???
Ah, aku rasa salah, aku memang berada dalam kumpulan mereka, tapi... aku bagai buih yang tidak beraturan, aku sama sekali tidak memberikan kontribusi pada dakwah, apalagi berjuang bersama aktivis tersebut, aku betul-betul bagai buih yang tidak beraturan, sekumpulan orang yang tidak berguna dan dakwah tidak membutuhkan itu, tegasnya dakwah tidak butuh dengan saya, kata-kata itu mengingatkannku pada sebuah lagu shoutul haroqah, bahwa dakwah hanya memerlukan sekumpulan orang yang siap dalam barisan yang teratur, lagi-lagi bukan buih yang tidak beraturan...
Aku memang sangat tidak layak menyandang gelar ADK itu, bayangkan... betapa seringnya aku terlambat shalat berjamaah di masjid, bahkan saat ngetik ini pun, suara adzan sayup-sayup terdengar manja di telingaku, bukan lagi terdengar gemuruh semangat untuk membangkitkan ku terus maju dan melangkahkan kaki ku, sungguh aku malu di sebut sebagai aktivis dakwah...
Jangan panggil aku aktivis dakwah....
Saat mutaba’ah yaumiyah pekananpun, sungguh jauh berbeda jika aku di bandingkan dengan sohib-sohibku selingkaran, saat mereka fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan), terbukti dengan semangat sohibku tilawah dengan 7, 8, 9 juz perpekan, qiyamul lail yang rutin, al ma’tsurat yang tak pernah lewat, shalat berjama’ah di masjid tak pernah ketinggalan, dhuha apalagi, tapi... aku???? Hem.... kadang aku malu saat itu, betul-betul malu, tilawahpun aku hanya beberapa lembar pekan ini, tahajud??? Hem... malu aku mengucapkannya, dhuha pun sama, bahkan shalat berjamaah pun sering lewat (sering munfarid), sungguh aku betul-betul malu sama sohib ku waktu itu....
Jangan panggil aku aktivis dakwah...
Pernah suatu saat aku memberanikan diri meminta tausiyah pada MR ku, dengan keterus terangan ku
Ass... tadz, jujur ane sering banget maksiat, tolooong kasih ane tausiyah, syukron.. by.ane
Tak lama dari itu, MR ku, jujur beliau sangat perhatiaaaan sekali padaku, pada semua mutarobnya, sehingga SMS pun langsung di balas.
Jujur merupakan modal taubat, jujurlah pada allah, bersungguh-sungguh untuk berlindung dari syaiton, sibukan diri dengan ibadah, kegiatan DK, shoum, jangan sendiri, bertemanlah dengan orang sholeh....
Hhhhhhhh.... aku hanya menarik nafas saat itu, betul-betul menyinggungku dan terasa menusuk-nusuk jantungku, karena keberadaan ku betul-betul jauh dari Allah, jarang aekali khusyu beribadah padaNya dan.... DK bukan lagi hal utama bagiku, walaupun itu merupakan suatu kewajiban bagiku tanpa harus di ekspos di sini. Tapi... lagi-lagi keberadaanku sebagai label aktivis sama sekali tidak pantas aku sandang.
Keberadaanku di tengah-tengah sohibku di kampus, hanyalah sebatas tempat canda gurau, bukan sebagai solusi permasalahan syuro, karena.... setiap syuro, aku selalu dan selalu mencari alasan untuk mundur alias jauh dengan kata-kata itu, aku justru alergi syuro’ entahlah....
Saat aku ABG (Aktifis Baru Ghiroh) dulu semester satu, rasanya nyamaaaan banget berada di tengah-tengah amanah dakwah yang menggunung itu, nikmta sekali mengemban peran aktivis itu, walaupun harus sedikit kelelahan dan ujung-ujungnya sampai demam, tapi... sama sekali itu tidak menyurutkan ku untuk terus mengemban amanah ini, ah... itukhan dulu... tapi sekarang???? Lagi-lagi aku tidak layak mengemban amanah ini
Jangan panggil aku aktivis dakwah...
Kini aku mau menyandang gelar kehormatan itu, menyandang gelar aktivis dakwh.. ah, jangan panggil aku itu, akhir-akhir ini, kerjaku di dakwah kampus tampak memudar, kini aku jarang sekali ikut syuro, yang biasanya dulu aku paling semangat dengan syuro’ atau bertukar pendapat, tapi sekarang…. Ah, semoga tidak berkelanjutan rasa malas yang memebenggu diri ini.
Pernah waktu itu aku di ajak syuro waktu acara seminar, ah… rasanya rasa malas itu membuntuti ku, aku betul-betul berat melangkahkan kaki ku, duh… allah yang kuasa, tolonglah hambamu…
Bahkan lebih parah lagi, binaank ku sekarang di SMA, sedikit terhambat, mereka memang malas rajin, tapi…. Aku yakin karena aku sendirilah, yang membuat mereka tidak tertarik denganku, dengan dakwah ini, walaupun do’a-do’aku selalu menyertai mereka, untuk tetap istiqomah di dalam jalan dakwah ini, ah… lagi-lagi, bukankah aku sendiri yang mulai melenakan dakwah ini, menelantarkan job-job yang haruskan aku kerjakan...