Bagi antum (Anda) yang pernah atau akan menjadi mentor (baca: mentor mata kuliah pendidikan agama Islam) , mungkin merasa terpanggil untuk m...
Bagi antum (Anda) yang pernah atau akan menjadi mentor (baca: mentor mata kuliah pendidikan agama Islam), mungkin merasa terpanggil untuk menghabiskan waktu bersama tulisan ini, dengan tatapan mata yang tajam sambil beriring getar-getar bibir, alias membacanya dengan seksama. Ana hanya ingin menanyakan apakah menjadi mentor susah? Tentu jawabnya bisa bervariasi..
Pertama, kesusahan operasionalistik (operationalistic difficulties). Maksud dari kesusahan ini adalah seorang mentor yang sangat susah bertemu dengan peserta mentoring (mentee) akibat kesibukan sang mentor. Betapa susahnya mencari jadwal kosong yang beririsan antara mentor dan mentee. Mungkin perlu menunggu setahun lebih, atau mungkin 4 tahun. Menunggu sampai sang mentee diwisuda dulu sehingga jadwal kosongnya benar-benar nyata… Demikian juga sang mentor yang suka cari alasan, sibuk. Wajar dong… Mentor!
Kedua, kesusahan yang keras (hard difficulties). Maksud dari tipe kesusahan ini adalah kesusahan yang sebagian besar mentor-mentor karbitan mengalaminya. Mentor seharusnya secara kafaah harus mampu melebihi dari menteenya, sehingga ada yang harus dibagi dan diberikan kepada menteenya. Seorang yang tidak memiliki pasti tidak mampu memberi. Nah, jika mentor tidak memiliki wawasan, atau potensi, atau sesuatu yang bisa dibagikan kepada binaan atau menteenya maka yakinilah bahwa mentor tersebut sedang berada dalam kesusahan yang amat keras, bahkan amat sangat keras sekali.
Ketiga, kesusahan yang lembut (soft difficulties). Ini tak serumit kesusahan tipe pertama dan kedua. Kesusahan ini terletak pada sisi yang terdalam dari diri kita. Umumnya mentor sangat sulit berkomunikasi dengan menteenya, terletak pada kesusahan tipe terakhir ini. Kesusahan 'soft' adalah seorang mentor yang memiliki kualitas ruhiyah di bawah standar. Mentor, tapi shalatnya amburadul. katanya mentor, tapi jangankan ibadah sunnah, yang wajib aja kelabakan. Irama masbuk di setiap waktu shalat menjadi irama-irama adzannya. Bacaan qur'an belepotan akibat jarang tilawah, intinya malas, gak bergairah. Mentor yang tengah berada dalam samudera peristiwa ini diyakini telah mendulang prestasi pada jenjang kesusahan tingkat lembut. Ingat, kesusahan yang satu ini bila mampu diatasi dengan baik maka kesusahan tipe pertama dan kedua akan semakin lebih mudah teratasi.
Terakhir, selamat kepada mentor. Menjadi mentor adalah anugerah. Meski apapun kesusahan antum, syukurilah bahwa ladang amal untuk menuju surga-Nya telah terbuka lebar, yakinilah dan tinggal jalani saja. Apapun kesusahannya , yang jelas jadi mentor dulu, daripada tidak sama sekali!
Wallahu'alam.